
jateng.jpnn.com, SEMARANG - Kolektif Hysteria dari Semarang kembali menyebarkan semangat manifesto Tulang Lunak Bandeng Juwana dalam kampanye kolektivisme seni dan budaya di era modern.
Kolektif Hysteria dari Semarang menyebar semangat manifesto "Tulang Lunak Bandeng Juwana" dalam kampanye kolektivisme seni dan budaya di era modern. Melalui tur "Bandeng Keliling," mereka mengunjungi 30 kota/kabupaten di Jawa dan Bali, dengan salah satu pemberhentian utama di Solo. Bersama Rumah Banjarsari, Solo, mereka menggelar pemutaran film dokumenter *Legiun Tulang Lunak: 20 Tahun Centimeters per Year* dan peluncuran dua seri buku *Tulang Lunak Bandeng Juwana*. Acara ini menjadi refleksi atas perjalanan 20 tahun Kolektif Hysteria dalam dunia seni dan budaya. Pendiri Yuswinardi menegaskan filosofi "tulang lunak" sebagai adaptasi komunitas dalam menghadapi dinamika kebijakan pemerintah. Meski saat ini mereka bekerja sama dengan pemerintah melalui Dana Indonesiana, Yuswinardi menekankan bahwa tantangan terbesar adalah bertahan ketika pendanaan tidak lagi tersedia.